Apa Saja Produk Investasi Yang Ada di Pasar Modal?

Apa Saja Produk Investasi Yang Ada di Pasar Modal?

1242
0
SHARE
Apa Saja Produk Investasi Yang Ada di Pasar Modal?

Ada banyak pilihan produk investasi di pasar modal. Dalam UU Pasar Modal No 8 Tahun 1995, instrumen atau produk yang diperdagangkan di pasar modal disebut dengan Efek. Apabila didefinisikan, Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari Efek.  Instrumen yang paling populer di pasar modal adalah saham.

Saham  merupakan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan yang tercatat di bursa efek.  Indonesia saat ini memiliki satu bursa efek, yakni Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan yang  tercatat di bursa atau yang menawarkan efek di bursa disebut juga emiten. Investor atau pihak yang berinvestasi saham bisa membeli saham melalui penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) di pasar primer atau membeli di bursa efek atau disebut dengan pasar sekunder.

Saat ini, ada sekitar 500 emiten yang sahamnya tercatat di BEI dan saham tersebut bisa diperjualbelikan oleh investor. Investor memiliki potensi keuntungan berupa selisih harga beli dan jual saham (capital gain) dan dividen yang dibagikan oleh emiten setiap tahun sesuai kesepakatan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Berikutnya adalah obligasi. Obligasi adalah surat berharga yang berisi kontrak antara pemberi dana yaitu investor yang membeli obligasi, dan pihak yang memperoleh dana, yaitu emiten.  Emiten yang menerbitkan obligasi akan membayar bunga atau kupon secara periodik kepada investor yang menjadi pemegang obligasi (bond holder). Sama seperti saham, obligasi dapat dibeli di pasar perdana, yaitu saat obligasi tersebut ditawarkan pertama kali, atau membeli di pasar sekunder ketika sudah dicatat di BEI.

Berbeda dengan saham yang akan terus tercatat di bursa, kecuali emiten mengajukan go private, obligasi ada masa jatuh tempo. Ketika jatuh tempo, maka nilai pokok obligasi akan dibayarkan kepada investor. Saat jatuh tempo, otomatis obligasi tersebut tidak lagi tercatat di BEI. Investor memiliki potensi keuntungan membeli obligasi dari  capital gain, dan keuntungan bunga (kupon).

Berdasarkan penerbitnya, ada dua macam obligasi, yaitu obligasi korporasi yang diterbitkan perusahaan atau emiten, dan obligasi yang diterbitkan pemerintah yang dikenal dengan Surat Berharga Negara (SBN). Ada berbagai macam SBN diantaranya Surat Utang Negara (SUN), Obligasi Ritel Indonesia (ORI), dan Sukuk atau Obligasi Syariah.

Saat ini ntuk membeli saham dan obligasi dibutuhkan nilai investasi yang tidak besar. Pembelian saham minimal harus 1 lot yang mewakili 100 lembar saham. Apabila Anda membeli saham Telkom yang berharga Rp 2500 per lembar, maka minimum modal yang diperlukan untuk membeli saham Telkom adalah 100 x Rp 2500,- yaitu Rp 250.000, kecil bukan? Sementara obligasi korporasi rata-rata minimal pembelian Rp1 miliar sehingga yang biasanya menjadi pembeli adalah investor institusi. Sementara investor individu atau ritel bisa membeli ORI atau SUKUK dengan minimal pembelian Rp5 juta.

Instrumen investasi berikutnya adalah reksadana. Reksa dana dikelola manajer investasi. Pengelola inilah yang  berinvestasi pada efek di pasar modal dari kumpulan dana milik investor. Manajer investasi menawarkan reksadana dalam bentuk unit penyertaan (UP). Rata-rata manajer investasi menawarkan pembelian reksa dana minimal Rp100 ribu. Reksa dana bisa dibeli melalui manajer investor yang mengelola reksa dana, atau melalui bank yang menjadi agen penjual reksadana. Sama seperti instrumen pasar modal lainnya, reksadana bisa dibeli (subscription) atau dijual kembali (redemption) kepada manajer investasi. Pengelolaan reksadana dibuat berdasarkan kontrak investasi kolektif (KIK) antara manajer investasi dan bank kustodian. Peran bank kustodian adalah mengadministrasikan dan menyimpan dana investor reksadana, sementara manajer investasi sebagai pengelola dana.

Reksadana merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksadana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal terbatas, atau yang mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun  memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas.

Anda pilih yang mana?

Investasi tentunya merupakan hal penting yang harus Anda pikirkan dalam rencana keuangan Anda. Anda bisa memilih modem investasi seperti reksadana, obligasi ORI atau sukuk, atau jika Anda ingin menjadi manajer investasi untuk diri Anda sendiri, Anda bisa belajar berinvestasi saham secara mandiri, selain bertransaksi saham sekarang bisa dilakukan dengan modal yang relatif kecil, investasi saham juga sudah didukung dengan online trading yang membuat Anda bisa melakukan beli dan jual saham dengan mudah melalui PC atau Mobile Gadget yang terkoneksi Internet. Sumber-sumber belajar investasi saham-pun kiat banyak dan mudah ditemukan.

Hal yang paling penting untuk diingat adalah produk investasi memiliki risiko masing-masing. Dalam berinvestasi ada istilah “high risk, high return dan  low risk, low return”, semakin  besar potensi keuntungan, semakin besar pula risiko kerugian.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY