Saat Rupiah Melemah, Hindari Saham Ini

Saat Rupiah Melemah, Hindari Saham Ini

805
0
SHARE
Saat Rupiah Melemah, Hindari Saham Ini

Saat Rupiah Melemah, Hindari Saham Ini

Hingga sore tadi, di pasar rupiah ditransaksikan pada titik Rp12.188/US$. Ini artinya mata uang Garuda tersebut turun sebesar 0,16%. Data Bloomberg menyebutkan, sepanjang hari ini rupiah bergerak pada rentang Rp12.155-Rp12.255.

Di sesi pembukaan perdagangan, rupiah langsung melorot 0,48% ketimbang penutupan sebelumnya yang Rp12.169.

Disaat rupiah semakin terpuruk, saham apa yang sebaiknya kita hindari? Pastinya adalah saham-saham yang secara operasional sangat dipengaruhi oleh nilai tukar USD IDR itu sendiri.  Walaupun biasanya saat rupiah turun, IHSG cenderung melemah, sehingga Anda perlu antisipasi lebih saat membeli saham yang kerjanya sangat dipengaruhi tukar rupiah terhadap dollar. Saham apa itu?

Pelemahan rupiah akan banyak menyebabkan beban biaya membengkak pada emiten yang memiliki biaya produksi import.

Sejumlah saham dari sektor perdagangan dan jasa paling besar terpengaruh kurs rupiah. Harga salah satu saham yang menjadi penghitung indeks sektor ini, PT United Tractors Tbk (UNTR) dengan bobot 21% terhadap indeks sektornya, bisa turun 0,55 poin setiap rupiah melemah satu poin terhadap dolar.

Demikian pula dengan saham sektor industri dasar, aneka industri, dan manufaktur yang sensitif terhadap pelemahan rupiah. Emiten dari tiga sektor tersebut banyak menggunakan bahan baku yang harus diimpor.

Industri perbankan sangat rentan terhadap depresiasi nilai tukar karena langsung dipengaruhi kebijakan Bank Indonesia terhadap suku bunga acuan, BI Rate, yang ditentukan dorongan inflasi. Situasi ini berpotensi mempengaruhi penyaluran kredit dan penurunan tingkat profitabilitas bank.

Adapun saham dengan tingkat sensitivitas paling kecil terhadap pelemahan rupiah adalah sektor barang konsumsi. Pelemahan rupiah sebesar satu poin akan mempengaruhi kinerja barang-barang sektor konsumsi sebesar 0,15 poin.

Pasar saham Indonesia juga dinilai masih prospektif bagi investor asing. Aksi jual saham yang dilakukan hanya bersifat sementara. Price to earning ratio (PER) Indeks Harga Saham Gabungan saat ini berada pada kisaran 12 kali, lebih rendah dibandingkan bursa di kawasan regional.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY