CPIN, Emiten Yang Terpengaruh Saat Rupiah Anjlok

CPIN, Emiten Yang Terpengaruh Saat Rupiah Anjlok

759
0
SHARE
CPIN turun saat rupiah anjlok

PemegangSaham.com –¬†PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menjadi salah satu emiten yang paling terpengaruh saat kurs rupiah anjlok melawan dollar. Ditengah lesunya daya beli masyarakat saat ini, CPIN juga dihadapkan pada kenaikan bahan baku karena turunnya nilai rupiah terhadap dollar Amerika.

Biaya produksi CPIN meningkat dikarenakan sebagian besar bahan baku pakan ternak seperti kedelai dan jagung mesti diimpor. Alhasil, hal tersebut pastinya akan menyeret kinerja perusahaan.

CPIN yang kini menguasai 35% pangsa pasar bisnis pakan ternak Indonesia. Pada semester I 2015 mencatatkan penjualan neto Rp 15,25 triliun, tumbuh 5,75% year-on-year (yoy). Dari jumlah itu, lini bisnis produksi pakan ternak berkontribusi Rp 11,36 triliun atau 74,48% total penjualan. Di kuartal II 2015 (April hingga Juni), penjualan lini bisnis pakan ternak Rp 5,68 triliun, tumbuh 0,05% atau stagnan dibandingkan kuartal I 2015.

Bahkan, laba kotor lini bisnis ini pada kuartal II 2015 tergerus 20% daripada kuartal I 2015 menjadi Rp 923 miliar. Penjualan lini bisnis pakan ternak adalah cermin lesunya permintaan.

Andre Varian, analis Ciptadana Securities, dalam risetnya per 10 Agustus 2015, melihat, pada semester II 2015 bisnis pakan ternak CPIN akan menghadapi tantangan koreksi rupiah dan rencana penghentian sementara impor jagung oleh pemerintah.

Fenomena El Nino juga berpotensi mengganggu pasokan jagung. Andre memprediksi, harga bahan baku pakan ternak bisa terkerek sehingga menekan margin bisnis ini. Apalagi, menurut catatan dia, selama Juni-Agustus 2015, harga jagung dan kedelai naik 6%-7%, saat saat rupiah terhadap dollar AS terkulai 8% sejak awal tahun hingga kemarin atau year to date (ytd).

Untuk menjaga margin,, langkah membebankan kenaikan biaya produksi ke konsumen alias mengerek harga sulit dilakukan. Sebab, saat ini daya beli masyarakat melemah dan CPIN ingin menjaga pangsa pasarnya. Michael yakin, sebagai penguasa pasar bisnis pakan ternak, CPIN masih mampu mencetak pertumbuhan bisnis hingga akhir tahun ini.

Andre menghitung, penjualan neto CPIN sepanjang 2015 tumbuh 10,64% (yoy). Kemudian laba bersihnya diproyeksikan tumbuh 41,90%. Robertus memprediksi penjualan neto CPIN hanya tumbuh 4%-5% tahun ini. Kemudian laba bersihnya diperkirakan tumbuh 1%.

Selama tahun 2015 ini harga saham CPIN sudah turun 50%, pada penutupan bursa 19 Agustus 2015. Harga CPIN ditutup di level 1915. Klik disini untuk Analisa Saham CPIN!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY